Showing posts with label dunia dakwah. Show all posts
Showing posts with label dunia dakwah. Show all posts

Monday, February 18, 2008

Cinta di Rumah Hasan Al Banna

Judul buku: Cinta di Rumah Hasan Al Banna
Penulis: Muhammad Lili Nur Aulia
Penerbit: Pustaka Da'watuna
Jumlah Halaman: 92
ISBN: 978-979-98769-7-7
Harga: Rp. 11.000 (harga diskon 40%)

Telah banyak buku yang mengupas Imam Hasan Al Banna dan keberhasilannya membangun pondasi gerakan dakwah al Ikhwan al Muslimun yang mengilhami geliat kebangkitan Islam di seluruh dunia. Namun, sedikit sekali referensi yang membicarakan dakwah Al Banna sebagai ayah dalam keluarganya. Nah, buku ini mencoba menghadirkan berbagai pengalaman dan kenangan anak-anak Al Banna saat ayah mereka hidup di tengah aktivitas dakwahnya yang padat. Buku ini mencoba 'mengintip' dakwah Al Banna kepada keluarganya.
Yang dihadirkan dalam buku ini bukanlah teori-teori pendidikan menurut Hasan Al Banna (buku kayak gini sih udah banyak), melainkan contoh praktis tentang, misalnya, bagaimana praktek Hasan Al Banna dalam menanamkan keimanan dan kecintaan terhadap Islam, bagaimana sikapnya terhadap kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan anaknya, bagaimana bentuk perhatiannya terhadap pendidikan, dokumentasi masing-masing anak tentang perkembangan dan riwayat sakit yang pernah dialami lengkap dengan catatan kapan saja si anak sakit, sakit apa, obat apa yang pernah diberi, berikut rekomendasi dan resep-resep dokter... pendeknya sampai hal terkecil pun didokumentasikan secara detil dan rapi.
Hal ini saya kira bukan pekerjaan mudah yang tidak menyita waktu, apalagi di tengah aktivitas dakwahnya yang demikian padat. Dari sini kita diyakinkan bahwa tidak ada dikhotomi antara keluarga dan dakwah. Pun tidak akan ada pertanyaan: "Mana yang lebih penting, dakwah untuk ummat atau membina keluarga?"
Memang perilaku Hasan Al Banna dalam mendidik anaknya belum tentu mencerminkan sesuatu yang IDEAL dilakukan. Semua yang ideal tetap milik Rosulullah SAW sebagaimana ucapannya, "Wa anaa khairukum li ahlii..." (Aku adalah orang yang paling baik diantara kalian kepada keluarga). Tapi, apa yang dilakukan Hasan Al Banna seperti yang tertera di buku ini, merupakan contoh lahir yang bisa menjadi inspirasi kebaikan bagi kita semua.
Bagi Sahabat, para Ayah sekalian, buku ini T.O.P BGT deh buat dibaca, karena ia menjadi salah satu contoh nyata para pejuang dakwah untuk memposisikan diri secara lebih tepat dalam mengemban amanah keluarga dan dakwah.

Sunday, July 01, 2007

Rihlah Ilallah-Najib Kailany

Prolog
Suatu hari, (saya lupa tanggal, bulan bahkan tahunnya :D) ketika melihat-lihat rak buku Ummu Uswah (my auntie) saya temukan satu novel. Saya heran. Kenapa? Sebab, both Ummu and Abu Uswah rasanya tidak pernah mengkoleksi novel/buku fiksi, kecuali untuk anak-anak mereka. Saya pernah nyangka, bahwa mereka tidak punya selera sastra :D.
Novel itu berjudul Bayang-bayang Hitam oleh Najib Khaelany. Lalu saya baca sedikit biografi sang penulis--yang ternyata aktivis harakah Ikhwanul Muslimin. Setelah membaca ini barulah saya bergumam: "Oo... penulisnya aktivis dakwah toh?! Pantes novel ini ada di koleksi buku Ummu and Abu Uswah!"
Memang kebanyakan buku-buku mereka bertemakan dakwah, harakah, dan tarbiyah.
Pada 5 April lalu, saya beli novel Rihlah Ilallah ini, sebab tertarik oleh tulisannya di novel Bayang-bayang Hitam.
Langsung Ke Inti
Setting yang mendominasi novel ini cukup menyeramkan: di Penjara Perang! Hampir di setiap bab kita akan diakrabkan dengan berbagai bentuk penyiksaan yang ditimpakan kepada para narapidana. Siapakah narapidana itu? Mereka aktivis dakwah Ikhwanul Muslimin (IM). Juga mereka yang hanya dicurigai memiliki hubungan dengan IM.
Ketika membaca bab demi bab tentang bagaimana para 'penguasa penjara' melakukan penyiksaan, ingatan saya tidak lepas dari mantan penghuni penjara dalam kasus yang sama (keterlibatan dengan harakah IM) yang kisahnya telah dibukukan: Perjuangan Wanita Ikhwanul Muslimin, Zainab Al-Ghazali (buku ini diterbitkan oleh Gema Insani Press). Aduh, betapa kondisi penjara yang mencekam, betapa cara menyiksa, cara menginterogasi, cara membuat pengakuan dan lain-lain, adalah PERSIS dengan apa yang dialami oleh Zainab Al-Ghazali (Alm). Saya nggak tau apakah pak Najib Khaelani ini pun pernah mengalami penyiksaan di penjara perang?
Membaca novel ini membuat saya semakin tertarik dan ingin mengenal lebih jauh mengenai Ikhwanul Muslimin dan kiprahnya di medan dakwah. Saya juga jadi ingin membaca kembali sejarah Mesir di masa revolusi dan rezim Gamal Abden Nasser (di sekolah kan nggak diajarin!). Tanpa pengetahuan yang baik tentang IM dan kondisi perpolitikan di masa Gamal Abden Nasser, saya kira novel ini kurang bisa dinikmati :).
Mengenai kisah cinta Athwa dan Nabila (dua tokoh utama novel ini), saya sih kurang tertarik untuk berkomentar. Karena itu semua sepertinya cuma 'bumbu' agar pembaca tidak cepat jemu. Yang paling ingin disampaikan penulis barangkali pesan dakwahnya.
Nah, izinkan saya mengutip kalimat di novel ini:
Ma'ruf menyahut dengan tersenyum, "Sementara kalangan mengira Ikhwanul Muslimin telah berakhir selamanya. Pendapatku pribadi, kafilah terus berjalan. Dan pertempuran terus berlangsung. Dan peperangan terus terjadi sepanjang kehidupan dunia masih ada. Meskipun aku merasakan akan adanya tambahan siksaan dan kezaliman atas diri kita, tetapi aku merasakan kebahagiaan yang tidak sedikit." (p. 245)
Saya setuju dengan perkataan Ma'ruf. Meskipun para Ikhwan disiksa, dizalimi dan dibunuhi, Ikhwanul Muslimin tidak akan pernah berakhir. Semangat dakwahnya terus bersinar, menembus batas-batas geografis, hinggalah menyebar di 70 negara muslim termasuk bumi ini, Indonesia.
Perjuangannya menjadi inspirasi bagi semua harakah islamiyah yang mendambakan tegaknya syariat Islam di muka bumi.
Epilog
Di Islamic Book Fair lalu, saya beli novel Najib Khaelany yang lain: Pengantin sang Dajjal. Melihat penulisnya Najib Khaelany saya sambar aja langsung! Nggak baca-baca sinopsisnya, nggak berpikir dua kali. Ketika istirahat (capek dong mengelilingi puluhan stand) dan makan di lokasi acara, saya baca-baca sinopsisnya. Diperkenalkanlah tokoh didalamnya, Athwa dan Nabila berikut rangkuman kisah mereka. Waaah, ini kan sudah saya baca di novel berjudul Rihlah Ilallah? Kenapa bisa begini?? Kenapa bisa ada dua novel terjemahan dengan judul yang berbeda jauh? Akhirnya saya kembali saja ke stand Pro-U Media. Apakah bisa ditukar dengan buku lain. Alhamdulillah Mas yang ngejaga standnya baik, novel itu boleh ditukar dengan buku lain.
Jadi, kalau Sahabat-sahabat menemukan novel Rihlah Ilallah dan Pengantin sang Dajjal karya Najib Khaelany, nggak usah beli dua-duanya ya! Itu isinya sama aja, hanya beda pernerbit. Rihlah Ilallah diterbitkan oleh Eranovis dan penerjemahnya Habiburrahman El Shirazy sedangkan yang satu lagi entah apa nama penerbitnya yang pasti dari Bandung dan penerjemahnya entah siapa, saya kan nggak sempat baca-baca lebih jauh.
Novel Najib Khaelany yang lain yang udah saya baca: Bayang-bayang Hitam, Wahsyi si Pembunuh Hamzah, dan Karena Angin Cinta. Apakah saya akan mempublish ulasan novel-novel itu disni? Tergantung demand dari Sahabat-sahabat sekalian :D

Wednesday, May 30, 2007

Memoar Cinta di Medan Dakwah

Memoar Cinta di Medan Dakwah. Buku yang ditulis oleh ust. Cahyadi Takariawan ini merangkumi pengalaman/aktivitas dakwah beliau ketika ditugaskan di Wilayah Dakwah 3 oleh 'Partai Tertentu', (yang pada tahun 2004 berubah nama menjadi 'Partai Tertentu Sejahtera', hehe). Wilayah Dakwah 3 ini meliputi Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Sulawesi dan Indonesia Timur: Maluku, Maluku Utara dan Papua.
Nun jauh di Indonesia Timur, tangan2 dakwah belumlah menjamah. Dakwah disana, di daerah yang selalu bergolak, tentulah memiliki mihnah yang jauh lebih berat dibandingkan dengan di pulau Jawa, misalnya (konon, pulau Jawa sedikit lebih maju daripada wilayah Indonesia Timur).

Saya sangat terkesan dengan satu cerita di buku ini. Yaitu tentang dua orang akhwat, yang demi kemaslahatan dakwah, MENIKAH dengan Kepala Suku di Wamena, Papua! Mereka meninggalkan 'gemerlapnya' pulau Jawa dan rela hidup di 'gelapnya' Papua. Mereka menjauh dari 'keberadaban' pulau Jawa dan sabar menghadapi 'keprimitifan' Papua. Mereka.. Demi Allah, mulia! Inilah mungkin yang disebut menikah di jalan dakwah. Pahit ya?

Buku ini, kata Ustaz Cahyadi, tidak hanya mengabadikan kenangan dari sebuah perjalanan, akan tetapi mengajak kita untuk melihat kedepan: bahwa ada banyak hal yang belum kita lakukan, bahwa ada banyak peluang yang bisa kita optimalkan, bahwa ada banyak tantangan yang harus kita selesaikan.
Ini buku yang membuat kita terjaga setelah sekian lama 'terbuai' oleh, salah satunya, kecukupan fasilitas dakwah di pulau Jawa.
 

Once in my free time Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by faris vio Templates Image by vio's Notez